Kamis, 20 Agustus 2009

Hari Ketiga Wall Street Menguat


NEW YORK, KOMPAS.com - Saham-saham AS di Wall Street naik pada hari ketiga setelah data ekonomi memberikan kesan pemulihan dari resesi panjang. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 70,89 poin (0,76 persen) menjadi 9.350,05 pada penutupan perdagangan.

Indeks gabungan saham teknologi berat Nasdaq meningkat 19,98 poin (1,01 persen) menjadi 1.989,22 dan indeks Standard & Poor’s 500 naik 10,91 poin (1,09 persen) menjadi 1.007,37, menembus batas psikologis 1.000 poin. Pada Rabu, indeks utama "rebound" (berbalik naik) kuat di tengah melonjaknya harga minyak.

Setelah dibuka tertatih-tatih di tengah volume perdagangan yang tipis, indeks utama menetap dalam wilayah positif karena investor terfokus pada data terbaru AS yang positif. The Conference Board mengatakan, indeks terkemuka indikator ekonomi, yang mengukur kondisi ekonomi dalam beberapa bulan ke depan, naik untuk keempat bulan berturut-turut pada Juli, 0,6 persen.

"Indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa resesi telah keluar dari posisi terbawahnya, dan kegiatan ekonomi akan mulai segera pulih,"kata Ken Goldstein, ekonom di perusahaan riset swasta tersebut. Sebuah indeks Federal Reserve dari sektor manufaktur di wilayah Philadelphia, Pennsylvania juga berbalik menjadi positif pada Agustus, naik menjadi 4,2, tingkat tertinggi sejak November 2007, sebulan sebelum ekonomi resmi masuk ke dalam resesi.

Namun, pasar terpukul oleh kabar pengangguran, yang diperkirakan menembus 10 persen.
Departemen Tenaga Kerja melaporkan, klaim baru manfaat untuk pengangguran naik untuk kedua pekan berturut-turut, menjadi 576.000 dalam minggu yang berakhir 15 Agustus. Sebagian besar analis memperkirakan klaim itu turun menjadi 550.000.


Sumber : Antara
http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.21.04393557

Mentan: Mahal Untuk di Indonesia, Beras SRI Diekspor


TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono menyatakan beras organik SRI (system of rice intensification) harganya mahal untuk di pasarkan di Indonesia.

Saat meresmikan ekspor perdana beras organik di Pendopo Bupati Tasikmalaya, Kamis (20/8), Mentan menerangkan tingginya harga beras organik karena produksinya dilakukan dengan cara khusus seperti pengadaan air yang tidak tercemar kandungan bahan kimia. "Karena di produksi dengan cara khusus maka harganya tinggi daripada harga beras biasa," katanya.

Menteri mengatakan, beras organik bisa saja dipasarkan di dalam negeri jika konsumen bersedia membayar dengan harga tinggi.

Menurut Mentan, kisaran harga beras organik jika dijual di dalam negeri belum ditentukan, namun untuk ekspor dijual dengan harga Rp 8.000 per kg. "Kita hanya mengarahkan pertanian organik untuk ekspor," katanya.

Dijelaskannya keunggulan beras organik karena menggunakan sistem SRI yang sangat hemat dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas.

Selain itu beras organik baik terhadap lingkungan dan kesehatan konsumen pengguna, sehingga mendapatkan tiga tiga standar sertifikasi dunia seperti standar Amerika (NOC), standar Eropa (EC), dan standar Jepang (SJ).

Memiliki standar sertifkasi itu maka Indonesia mampu mengekspor beras organik sebanyak 18 ton yang baru pertama kali dilakukan sepanjang sejarah Indonesia. "Maka mejadi kebanggan bagi petani, pemerintah Tasikmalaya, termasuk bangsa Indonesia," katanya.

EDJ
Sumber : Antara
http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.20.22231845

Amankan Ramadhan, Pertamina Impor 40.000 MT Elpiji


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) meminta Petredec Ltd mengirimkan 40.000 metrik ton (MT) elpiji pada September mendatang untuk mengamankan stok saat Ramadhan dan Hari Raya Lebaran. S

enior Vice President Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya, menjelaskan, permintaan Pertamina itu perlu dilakukan mengingat menjelang Ramadhan dan Lebaran, biasanya konsumsi elpiji mengalami peningkatan.

"Dalam kondisi normal, konsumsi elpiji sekitar 6.000 MT untuk elpiji ukuran 3 Kg. Sedangkan untuk yang non subsidi 3.500 MT. Konsumsi bisa bertambah saat Ramadhan dan Lebaran. Saat ini, kami punya stok elpiji sebanyak 223.970 MT atau setara untuk kebutuhan selama 25 hari. Sementara kapasitas simpan yang kami miliki sebanyak 300.000 MT. Masing-masing di floating storage offshore (FSO) di Teluk Semangka 180.000 MT dan di tanki timbun 120.000 MT," kata Hanung, Rabu (19/8).

Saat ini kontrak impor Pertamina dari Petredec untuk 2009 sebanyak 800.000 MT sampai 1,2 juta MT. Sementara 2010 1 juta MT sampai 1,5 juta MT. Petredec telah mengikat kontrak penjualan elpiji dengan Pertamina sampai 10 tahun sejak akhir 2008 lalu. Harga pembelian selama tiga tahun pertama disepakati Freight On Board (FOB) Saudi Aramco Contract Price (CP) minus 4,5 dollar AS per ton. Untuk tahun ke empat dan seterusnya, harganya di review setiap tahun.

Selain itu, pada 4 Agustus lalu Pertamina juga telah meneken perjanjian jual beli 240.000 MT elpiji produksi Kilang Bontang, Kalimantan Timur dengan Total E&P Indonesie dan Inpex. Jual beli yang berlaku sejak Juli sampai Desember 2009 tersebut bernilai total 120 juta dollar AS. Pertamina harus membayar 500 dollar AS per MT sesuai harga CP Aramco. "Tapi jika masih ada kekurangan kita akan beli dari pasar spot," jelas Hanung. (Gentur Putro Jati/Kontan)


Sumber : KONTAN
http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.19.22012158

Pemerintah Inspeksi BlackBerry


JAKARTA, KOMPAS.com - Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pada Rabu (19/8) melakukan inspeksi dan facts finding ke RIM-Authorized Repair Facility untuk layanan purna jual BlackBerry di Indonesia, yang beralamat di Jakarta.

"Hari ini siang hingga sore hari atau sekitar 2 jam kami telah memenuhi undangan dari pihak RIM (Research In Motion) dari Kanada yang telah disampaikan via email pada tanggal 15 Agustus 2009 untuk mengunjungi RIM-Authorized Repair Facility untuk layanan purna jual BlackBerry di Indonesia, di Jakarta," kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Kominfo, Gatot S. Dewa Broto, di Jakarta, Rabu (19/8).

Ia mengatakan, kunjungan yang sesungguhnya merupakan inspeksi dan "facts finding" itu dilakukan oleh suatu tim khusus yang melibatkan beberapa pejabat Departemen Kominfo dan BRTI.

Hal itu dilakukan untuk menyaksikan secara langsung dan konkret tentang perkembangan RIM dalam mempersiapkan pendirian pusat layanan purna jual sebagaimana yang selama ini telah disampaikan perencanaan dan perkembangannya secara tertulis berturut-turut tertanggal 11 Juli 2009, 31 Juli 2009, dan 15 Agustus 2009 kepada Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar.

"Dan komitmen tersebut diulanginya kembali pada saat pertemuan antara Dirjen Postel beserta beberapa pejabat terkait dengan pihak Management RIM yang didampingi oleh Kedutaan Kanada di Indonesia pada tanggal 14 Juli 2009, dimana RIM sudah berjanji untuk membuka operasional layanan purna jualnya pada tanggal 21 Agustus 2009," katanya.

Gatot menegaskan, dalam peninjauan ke kantor RIM-Authorized Repair Facility itu, pihak Departemen Kominfo dan BRTI berusaha bersikap sekritis dan sekomprehensif mungkin dalam melakukan pengamatan dan penyampaian pertanyaan ataupun komentar terhadap presentasi RIM.

Tim khusus Departemen Kominfo dan BRTI sempat memperoleh kesempatan untuk meninjau seluruh fasilitas yang tersedia di tengah-tengah tenaga SDM RIM yang sedang menangani beberapa kasus kerusakan BlackBerry.

"Hanya saja kepada RIM, telah diinformasikan oleh tim khusus Departemen Kominfo dan BRTI ini, bahwa hasil inspeksi ini masih harus dievaluasi internal BRTI," kata Gatot.

Ia menambahkan, hasil evaluasi kemudian akan dibahas bersama oleh rapat pleno BRTI dalam waktu sesegera mungkin sambil menunggu laporan tertulis dari seluruh materi yang dipresentasikan oleh RIM beserta seluruh foto dokumentasinya lengkap untuk dijadikan bahan pertimbangan apakah Ditjen Poste/BRTI pada akhirnya akan menyetujui atau menolak atau mungkin menyetujui tetapi dengan beberapa catatan perbaikan yang masih harus wajib dilakukan oleh RIM untuk RIM-Authorized Repair Facility di Indonesia.

"Bahwasanya menurut RIM pada tanggal 21 Agustus 2009 ini akan menyampaikan pernyataan resminya kepada media massa tentang keberadaan RIM-Authorized Repair Facility yang akan membantu sentra-sentra layanan purna jualnya di beberapa tempat ini, maka Departemen Kominfo dan BRTI merasa tidak keberatan sejauh tidak menyebutkan sudah adanya approval dari BRTI, karena approval masih menunggu rapat pleno BRTI," katanya.

EDJ
Sumber : Antara
http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.19.2206409

Wow... Harga Gula Cetak Rekor Tertinggi


JAKARTA, KOMPAS.com — Harga gula pasir eceran di pasaran dalam negeri mencetak rekor baru. Saat ini, harga gula menyentuh level Rp 8.893 atau naik Rp 245 per kilogram (kg) dibandingkan harga pada bulan Juli yang hanya Rp 8.468 per kg. Berdasarkan data Departemen Perdagangan (Depdag), harga tersebut merupakan harga tertinggi sejak lima tahun belakangan ini.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depdag Subagyo mengatakan, kenaikan harga gula itu mendekati 10 persen dari harga bulan Juli. Namun, pemerintah belum ambil sikap atas kenaikan tersebut karena belum ditemukan adanya indikasi penyelewengan. "Tidak ada penimbunan yang kita temukan," kata Subagyo, Rabu (19/8) di Jakarta.

Menurut Subagyo, kondisi harga gula saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis harga dunia. Untuk diketahui, harga gula dunia sudah berada di harga 530-560 dollar AS per ton. Akibatnya, harga gula nasional ikut terkerek naik.

Selain naiknya harga luar negeri itu, kenaikan harga dalam negeri juga disebabkan oleh naiknya kebutuhan industri. Menurut Subagyo, menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Lebaran, terjadi kenaikan konsumsi. Sebab, industri makanan dan minuman juga menyerap gula yang lebih tinggi. "Semua produsen meningkatkan produksinya," ungkap Subagyo.

Naiknya tingkat serapan industri akan kebutuhan gula tersebut juga ikut memengaruhi harga pasar. Alhasil, komoditas gula menjadi incaran para pedagang dan pelaku industri, terutama di sektor makanan dan minuman.

Hal ini dibenarkan oleh Natsir Mansur, Ketua Asosiasi Pedagang Gula dan Terigu Indonesia (Apegti). Menurut Natsir, gula memang sudah menjadi incaran para pedagang besar. "Kalau sudah seperti ini, harga gula akan sulit untuk turun," ungkapnya.

Saat ini, Departemen Perdagangan mengaku sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dalam melakukan pemantauan harga gula. Dari hasil pemantauan itu, harga gula tertinggi ditemukan di Kabupaten Manokwari, Papua, yang dijual seharga Rp 11.000 per kg. Adapun harga gula terendah bisa dibeli di Banjarmasin di harga Rp 7.500 per kg. (Asnil Bambani Amri/Kontan)


Sumber : KONTAN

http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.19.22192122

Besok DPR Bahas Dewan Komisaris Pertamina


JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi VII DPR akan menggelar rapat internal untuk membahas adanya dugaan conflict of interest yang terjadi di Dewan Komisaris (Dekom) PT Pertamina.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang anggota Komisi VII DPR, Nizar Dahlan, kepada para wartawan, Selasa (18/8). Dijelaskan, bila dugaan adanya conflict of interest di internal Pertamina ini memang ada, maka Komisi VII DPR kemungkinan akan memanggil Menneg BUMN Sofyan Djalil.

"Selama ini, memang banyak sekali pertanyaan soal kontroversi di Dewan Komisaris Pertamina. Banyak hal, salah satunya dugaan adanya conflict of interest para anggotanya. Oleh karena itu, rencananya besok kami akan membahas masalah itu secara internal Komisi VII," kata Nizar.

Nizar menjelaskan, pertanyaan yang masuk ke Komisi VII antara lain dari salah satu fraksi di DPR yang dikirim melalui surat resmi beberapa waktu lalu. Fraksi tersebut mempertanyakan posisi salah seorang anggota dewan komisaris Pertamina menjadi penyebab adanya conflict of interest.

"Nanti semua itu akan dibahas di rapat internal komisi, benar enggak status salah satu anggota Dekom Pertamina yang juga punya jabatan lain mengganggu kinerja Pertamina. Kalau terbukti ada, kita akan panggil Menneg BUMN untuk mempertanyakan hal itu. Yang bertanggung jawab atas pengangkatan komisaris BUMN adalah Menneg BUMN," ujar Nizar.

"Dan bila benar adanya, ada konflik, dan ternyata memang menghambat tata kelola perusahaan, sebaiknya ya memang diganti saja," katanya lagi.

Persda Network Rachmat Hidayat
(http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.18.20473625)

Saham dan Minyak Dunia Bertumbangan


LONDON, KOMPAS.com — Harga saham dan minyak dunia bertumbangan, Senin (17/8), saat pasar dililit oleh kekhawatiran akan prospek konsumen di AS. Pasar dikekang oleh kekhawatiran terhadap lambannya langkah pemulihan ekonomi global meskipun terdapat kabar bahwa Jepang telah keluar dari masa resesi.

Di Eropa, indeks saham terkemuka Inggris FTSE 100 turun 76,23 poin atau 1,6 persen serta berada pada 4.637,74. Sementara indeks DAX di Jerman merosot 95,78 poin atau 1,8 persen menjadi 5.213,33. Indeks CAC-40 di Perancis anjlok 58,69 poin atau 1,7 persen menjadi 3.436,31.

Bursa saham Shanghai yang merosot hampir 6 persen memimpin penurunan tajam nilai saham di Asia saat dibukanya transaksi di Wall Street. Indeks berjangka Dow Jones turun 157 poin atau 1,7 persen menjadi 9.164 dan indeks Standard & Poor’s 500 anjlok 18,5 poin atau 1,8 persen menjadi 987,30.

Hasil survei kepercayaan konsumen Jumat pekan lalu yang dipadukan dengan laporan penurunan pendapatan beberapa perusahaan AS seperti Abercrombie & Fitch Co., JC Penney Corp. serta Nordstrom Inc. telah memicu keprihatinan tentang kemungkinan kondisi ekonomi dunia tidak akan pulih secepat yang diperkirakan sebagian besar kalangan pasar selama ini.

Dari bursa komoditas, kontrak berjangka pengiriman minyak mentah light sweet untuk September di New York Mercantile Exchange menurun 1,57 dollar AS menjadi 65,94 dollar AS per barrel. Harga minyak terus merosot tajam di tengah terdapat kekhawatiran pasar terhadap permintaan pasar global yang tidak setinggi yang diperkirakan sebelumnya. Analis menjelaskan penurunan harga minyak mendekati 5 dollar AS dalam transaksi 2 hari terakhir telah menunjukkan bukti lain bahwa investor saham telah membukukan profit.

JIM
Sumber : AP
(http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.17.20093910)

Indonesia Berpotensi Besar Capai Pertumbuhan Ekonomi 5,5-6 persen



Senin, 17 Agustus 2009 20:58 WIB 3 Komentar
Penulis : Rini Widuri Ragillia
JAKARTA-MI: Indonesia sangat dimungkinkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen hingga 6 persen pada tahun 2010.

Demikian disampaikan oleh pengamat ekonomi Pande Raja, Senin (17/8).

"Asumsi untuk mencapai 5,5% hingga 6% itu dapat saja tercapai. Bukan hal yang tidak mungkin," ujarnya.

Menurut Pande, kemungkinan tersebut didorong oleh mulai pulihnya kondisi perekonomian global pada 2010 nanti. Sementara kondisi perekonomian dalam negeri sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dunia.

Krisis global dinyatakan telah sampai di batas bawah dan tinggal menunggu waktu untuk kembali membaik.

"Tanda-tanda kondisi ekonomi dunia sudah sampai paling bawah. Sejauh mana pulihnya nanti kita lihat, karena sebenarnya perekonomian kita sangat tergantung pada faktor eksternal, faktor global. Karena dulu penggerak ekonomi kita dalah ekspor," jelasnya.

Meskipun banyak dipengaruhi faktor eksternal, namun Pande juga menegaskan bahwa faktor internal juga ikut memberikan kontribusi dalam hal ini. Salah satu faktor internal yang dapat membantu percepatan perbaikan ekonomiIndonesia dan sekaligus dapat digunakan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi adalah dengan mempercepat pembangunan infrastuktur.

Dengan dibangunnya infrastruktur, sambungnya, proyek-proyek pemerintah terlaksana sekaligus terdapat kegiatan penciptaan lapangan kerja. "Itu yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam menentukan kebijakan terkait penentuan besarnya pertumbuhan ekonomi tersebut.

"Pemerintah tetap harus hati-hati. Walaupun sebenarnya ini kan juga untuk memupuk optimisme. Kita tetap harus pertimbangkan faktor-faktor yang ada," ujarnya. (DU/OL-7)
(http://www.mediaindonesia.com/read/2009/08/08/90899/23/2/-Indonesia-Berpotensi-Besar-Capai-Pertumbuhan-Ekonomi-55-6-persen)

Kenaikan di Bursa Saham Hanya Ilusi?


KOMPAS.com - Pernyataan yang disampaikan oleh Bank Sentral Amerika setelah rapat kebijakan moneternya tanggal 12 Agustus lalu mengatakan, kondisi pasar keuangan sudah mulai membaik namun aktivitas ekonomi masih tetap lemah.

Seperti yang kita ketahui, beberapa minggu belakangan ini kondisi pasar keuangan amat bergairah, hampir seluruh pasar saham dunia naik tajam. Indeks saham Dow Jones sudah kembali berada di atas level 9000, melebihi level penutupan akhir tahun 2008, setelah sebelumnya pada awal Maret 2009 sempat terjerembab ke level 6500.

Namun apa yang terjadi di pasar saham tidak merefleksikan apa yang terjadi dengan perekonomian riil. Di AS sendiri ekonomi masih tetap lemah. Tingkat pengangguran masih tinggi yang berdampak pada belanja konsumen yang tetap tertekan. Data tingkat pengangguran yang terakhir masih tetap tinggi di kisaran 9,4 persen. Banyak ekonom memperkirakan angka ini masih akan terus bertambah hingga awal tahun 2010 di kisaran 10 persen.

Dengan tingkat pengangguran yang masih tinggi, berarti masih banyak perusahaan yang memberhentikan pekerjanya dan ini membuat masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya karena potensi pemecatan yang membayangi.

Data penjualan ritel Amerika Serikat yang dirilis Hari Kamis malam menunjukkan penurunan penjualan sebesar 0,1 persen, yang artinya kondisi masyarakat yang membatasi belanja dan daya beli masyarakat yang turun tajam. Penjualan ritel berkontribusi hampir dua per tiga dari total perekonomian AS. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi AS masih terpuruk.

Data lainnya yang juga mengindikasikan masih terpuruknya ekonomi AS adalah data aktivitas penyitaan rumah di AS yang melonjak 7 persen pada bulan Juli. Ini menandakan masih banyaknya rumah tangga yang tidak mampu membayar angsuran kredit rumahnya di AS akibat penurunan pendapatan atau bahkan kehilangan sumber pendapatannya.

Jadi kenaikkan bursa saham yang tajam ini hanyalah sebuah ilusi. Pemulihan baru berlangsung di sektor non riil. Masalah pada perekonomian riil masih menumpuk dan bila tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan ekonomi akan kembali masuk ke resesi yang lebih dalam. Sepertinya pemerintah AS berusaha membangun citra bahwa ekonomi sudah mulai pulih melalui kenaikan bursa saham.

Bila data-data fundamental ekonomi yang akan dirilis pada bulan-bulan mendatang masih akan menampilkan hasil yang buruk, sentimen bullish yang membayangi bursa saham akan hilang dan bursa saham dapat terkoreksi dalam. (AT/Senior Research And Analyst PT Monex Investindo Futures)


Sumber : Monex
(http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.17.09582366)

Penurunan Suku Bunga Pinjaman Masih Terbuka


TANGERANG, KOMPAS.com - Tingkat suku bunga pinjaman yang tidak kunjung turun disesalkan banyak pihak. Pasalnya, penurunkan suku bunga acuan (BI Rate) yang dilakukan secara bertahap hingga 250 basis poin (bps) sejak awal tahun 2009 lalu, tidak diikuti dengan penurunan suku bunga pinjaman.

Ekonom Ryan Kiryanto mengatakan peluang suku bunga pinjaman masih terbuka lebar di tahun 2009 ini. "Memang ini disesalkan banyak pihak. Tetapi peluang perbankan untuk menurunkan suku bunga pinjaman masih terbuka," kata Ryan, di Tangerang, Sabtu (15/8).

Menurutnya, BI Rate masih bisa dipangkas hingga 6,0 persen di akhir tahun 2009 jika tingkat inflasi berada di kisaran 4,0 persen. Penurunan BI Rate akan memberi peluang bagi perbankan untuk menyesuaikan suku bunga.

Di samping itu, pemerintah akan menggelontorkan anggaran untuk proyek infrastruktur skala besar, seperti kelistrikan, jalan tol, telekomunikasi, serta pertanian yang bersifat padat modal dan padat karya. Menurutnya, hal ini akan memicu pertumbuhan ekonomi dan memberikan kepercayaan diri bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga pinjaman.

"Kalau pertumbuhan ekonomi membaik, tingkat resiko kredit juga akan mengendur. Karena itu, perbankan akan menurunkan suku bunganya," ujarnya.

ANI
(http://m.kompas.com/news/read/data/2009.08.15.19152028)